Diposting Pada: Minggu, 08 November 2020
MISTERI MUSEUM SIGINJEI karya Luviana Nursayyidah


MISTERI MUSEUM SIGINJEI karya Luviana Nursayyidah
Riko, Rendi, dan Dita sedang asik berbincang-bincang di sebuah kedai kopi yang tidak terlalu ramai pengunjung. Mereka adalah anak-anak muda cerdas yang terkenal sebagai klub Detektif Swasta (Partikelir). Telah banyak orang yang meminta bantuan mereka untuk memecahkan kasus-kasus sederhana, dan mereka selalu siap untuk membantu siapa saja dalam memecahkan permasalahan ataupun teka-teki yang mengganggu seseorang.
Riko adalah lelaki yang cerdik dan pemberani. Dita adalah wanita yang bertugas mengarahkan jalannya introgasi dan selalu berhasil mengorek informasi yang banyak dari siapapun dengan pertanyaan kritisnya. Sedangkan Rendi memiliki rasa penasaran yang tinggi dan terkadang ceroboh serta sulit diatur.
Berkumpulnya mereka di kedai kopi dikarenakan Riko mendapat telpon dari Museum Siginjei. Salah satu petugas di museum meminta bantuan klub Detektif Swasta untuk menyelesaikan masalah yang sedang ada di dalam museum. Rikopun mengumpulkan anggotanya untuk memberitahukan seperti apa bentuk kasus yang akan mereka hadapi nantinya.
Selesainya mereka berbincang satu-dua hal, mereka pergi bersama-sama menuju Museum Siginjei. Di sana, telah ada bu Citra, petugas yang menelpon Riko sekaligus penanggung jawab dari Museum Siginjei.Bu Citra menceritakan kembali duduk perkaranya, tentang hilangnya beberapa koleksi yang ada di dalam museum.
“Bagaimana jika kita menginap saja di Museum ini? Hitung-hitung untuk jaga-jaga dan menangkap pelakunya kan.” Ujar Rendi setelah mendengar kronologis cerita dari bu Citra
“Oh, tentu saja silakan. Ada beberapa koleksi yang hilang dan beberapa koleksi yang tempatnya berpindah. Jika kalian menginap di sini, kalian pasti bisa menemukan petunjuk-petunjuk yang membantu untuk memecahkan misteri ini. Nanti saya akan jelaskan ke pak Gani jika kalian disini menginap, jadi kunci musum bisa diserahkan saja ke kalian”
“Siapa itu pak Gani, buk?” Tanya Dita

“Pak Gani itu salah satu petugas di museum ini. Ia bertugas membuka museum di pagi hari dan mengunci museum di malam hari. Nanti kalian juga bisa bertanya ke pak Gani, mana tau ada keanehan juga yang beliau dapati sebelum beliau mengunci pintu museum” jelas bu Citra.
Malam pertama di Museum, tak ada sesuatu yang mecurigakan. Mereka selalu bersiaga. Di malam kedua juga mereka masih belum mendapatkan titik terang, hanya melihat pak Gani yang

berjaga malam dan berkeliling ruangan di Museum. Hal yang biasa dilakukan oleh petugas keamanan museum. Hingga akhirnya mereka menginap sampai malam ketiga.
Di malam ketiga, Riko, Rendi dan Dita kembali berpencar dan berjaga malam. Riko berada di ruang penyimpanan keramik antik, Rendi di ruangan Arca Avalokitesvara, dan Dita berjaga di ruangan mesin cetak uang.
Saat sibuk menunggu Dita merasa bosan dan menemui pak Gani berharap bisa mendapatkan petunjuk dari penantian mereka yang belum memiliki titik terang. Pak Gani seketika panas dingin saat ditemui Dita. Ia khawatir Dita mencurigainya, takut jika harus dipecat, padahal belum genap setahun dia bekerja di museum ini. Karena rasa takutnya, pak Gani menghindar sebisa mungkin dari Dita.
Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang jatuh di dalam Museum Siginjei. Dita cemas, karena sumber suara itu ada di ruangan Arca Avalokitesvara. Ia berlari segera menuju ruangan itu dan ternyata Riko juga melakukan hal yang sama. Mereka sama-sama cemas, takut terjadi apa-apa dengan Rendi. Saat melihat ke dalam ruangan, tampak Rendi yang sibuk menyusun kembali barang yang jatuh. Mereka hanya geleng-geleng kepala melihat kecerobohan Rendi lalu pergi dari ruangan yang dijaga Rendi menuju ruangan yang mereka jaga masing-masing.
Saat dalam perjalanan menuju ruangannya, Riko melihat bayangan seseorang yang berjalan di dalam museum. Ia membuntuti bayangan tersebut secara diam-diam hingga bayangan tersebut masuk ke ruangan dengan pencahayaan yang lumayan. Ternyata bayangan itu adalah bayangan pak gani. Ia membawa sesuatu hal di tangannya lalu meletakkan benda tersebut di sudut ruangan itu, tersembunyi oleh kardus dan barang-barang yang jarang dipakai. Riko memperhatikan dengan seksama, ruangan itu adalah gudang tempat biasanya pak Gani tidur.
Anehnya, pak gani nampak begitu santai menaruh barang tersebut lalu menuju sofa dan tertidur lelap. Bahkan terdengar dengkurang halus mengiringi napasnya.
Riko memasuki ruangan itu dan membongkar tempat dimana pak Gani menaruh barang tadi. Ia melihat ada beberapa barang museum yang ada di sana. Lalu ia mendekati pak Gani, berputar-putar melihat pak Gani yang tidurnya benar-benar lelap itu. Dicoleknya tangan pak Gani dan pak Gani tetap saja tidur dengan pulas. Riko hanya menahan tawa lalu keluar dari gudang menuju Dita dan Rendi.
Keesokan harinya, pak Gani diajak untuk bertemu di ruangan kosong dalam museum atas izin bu Citra.
“Pak, apakah bapak pernah memindahkan barang museum ini ke suatu tempat?”

“Tidak nak, tidak.Bapak tidak berani melakukan hal itu. Pukul 11.00 malam saja bapak sudah tertidur lelap karena lelah setelah mengelilingi museum”
“Berarti benar dugaanku” Riko mendekati pak Gani dan memukul pelan bahunya. “nah, sebenarnya tidak ada pencurian barang-barang di museum ini. Tampaknya pak Gani sering mengigau, tanpa sadar hingga berjalan dan memindahkan benda-benda museum. Ia tidak sadar dengan itu.
Buktinya malam tadi saya melihat pak Gani menaruh barang-barang museum di gudang tempat ia istirahat lalu langsung tertidur lelap. Saya coba bangunkan, dan pak Gani lelap sekali dalam tidurnya. Dapat disimpulkan, jika pak Gani hanya mengigau. Barang-barang museum yang hilang semua ada di gudang.”
“Iya? Astaga. Maaf bu, saya tidak sadar dengan hal itu bu. Saya benar-benar tidak sengaja melakukan itu bu. Saya mohon maafkan saya” ujar pak Gani membela diri.
Bu Citra meminta Riko, Rendi dan Dita keluar dari ruangan untuk berbicara empat mata dengan pak gani. Lalu mereka mengelilingi lagi museum dan menikmati waktu-waktu yang ada di sana. Tampak ada banyak anak-anak sedang di sana. Dari pakaian yang dikenakan anak-anak itu bisa disimpulkan mereka adalah siswa SD yang sedang study tour di museum Siginjei.
“Museum tidak seseram itu ya, walau ada misteri di dalamnya, itu hanya misteri sederhana. tetap saja, museum itu tempat yang asik untuk bermain plus belajar” ujar Dita keteman-temannya.
“Iya. Selama tiga malam kita menginap di sini saja, ada berapa banyak hal yang kita dapatkan. Isi museum semuanya sangat menarik ya, kita bahkan bisa begadang menjaga museum ini sembari melihat isi museum. Semoga tidak ada lagi masalah di museum ini ya” ujar Riko.
Riko, Rendi dan Dita tertawa sebentar lalu kembali mengelilingi museum dengan rasa bangga telah berhasil memecahkan misteri dan menambah daftar keberhasilan klub Detektif Swasta mereka.

 


159x
Dibaca

Berita Lainnya:

  1. GURU MAN 1 RAIH PRESTASI SABAK EXPO 554x dibaca
  2. Guru MAN 1 Tanjab Timur Terapkan Evaluasi Berbasis E-Learning 1360x dibaca
  3. SISWA-SISWI MAN 1 TANJABTIM JUARAI LARI MARATHON 259x dibaca
  4. SOSIALISASIKAN PHBS MAN 1 GANDENG PUSKESMAS 406x dibaca
  5. MISTERI MUSEUM SIGINJEI karya Luviana Nursayyidah 160x dibaca

Halaman ini diakses pada 25-06-2021 10:14:11 wib
Diproses dalam waktu : 0.327 detik
Diakses dari ip address: 35.170.64.36
Copyright © 2018 Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi - Allright Reserved