Diposting Pada: Minggu, 08 November 2020
TEKAD YANG TAK PERNAH MATI karya Luviana Nursayyidah


TEKAD YANG TAK PERNAH MATI karya Luviana NursayyidahKota suci penuh konflik ini tak kunjung reda. Membuat semua orang tak bisa hidup dengan tenang. Umar dan Lutfi adalah kakak dan adik yang merupakan salah satu dari sekian banyak masyarakat Palestina yang menghabiskan hidupnya dengan bersembunyi dari tentara kejam dan segala macam bom misil yang dikirimkan tak henti-hentinya. Mereka memiliki ibu dan ayah yang sangat menyayangi mereka, namun mereka harus bersedih karena sampai sekarang tidak bisa menemukan ibu dan ayahnya yang terpisah semasa kekalutan perang dan keinginan untuk saling menyelamatkan diri.
Tembakan meriam dan besarnya suara ledakan tentara israel selalu terngiang-ngiang di telinga Umar dan Lutfi. Selangkah saja kaki mereka tidak berhati-hati menapaki tanah, maka ada kemungkinan nyawa yang menjadi taruhannya. Rasa tanggung jawab Umar untuk menjaga adiknyalah yang membuat Umar kuat dan selalu mengeringkan air mata jika merasa kehidupan mereka mulai terasa berat. Ia ingat dengan janji yang telah diucapkannya kepada ayah dan ibunya untuk menjadi seorang kakak yang menjaga adiknya ketika ayah dan ibunya tak ada.
“Tenang, dik. Aku bersamamu. Kamu tak perlu cemas, kita pasti segera berkumpul dengan ayah dan ibu. Mereka pasti akan segera menjemput kita.” Ujar Umar setiap malam saat menidurkan adiknya sembari mengelus pelan dan mengiring tidur adiknya dengan sholawat yang biasa dinyanyikan ibunya untuk mereka. Sedang Lutfi hanya bisa terisak pelan memeluk kakaknya. Bocah 5 tahun itu tak bisa membendung rasa pilu dengan kehidupan yang serba jauh dari rasa bahagia.
Saat sedang lelap-lelapnya tertidur, tiba-tiba terdengar bunyi meriam yang meledak. Memang bunyi itu tidak dekat, namun tetap membangunkan kakaK beradik itu dan menjadikan mereka tidak bisa lagi melanjutkan tidurnya. Umar menggenggam tangan adiknya dan mengajaknya berjalan pelan keluar. Sembari mengintip-intip sumber ledakan, mereka pergi lagi menuju tempat dimana mereka bisa menyelamatkan diri, mencari bantuan dan keramaian untuk merasa aman bersama orang-orang lainnya.
Merekapun sampai di posko pengungsian. Di sana sangat sibuk dan ramai. Orang-orang hilir mudik mengangkat para korban dari meriam barusan. Orang-orang yang terluka dijejerkan dan dibaringkan untuk disembuhkan dengan alat seadanya. Kaki Umar terhenti dan lemas, ketika melihat salah satu dantara orang-orang yang terluka itu adalah ayahnya. Ia ingin teriak, tapi mengingat adiknya yang pasti akan mendapat trauma lebih dari yang ia rasakan, maka ia putuskan tetap berjalan dan memeluk adiknya. Air mata yang tertahan itu buyar perlahan seiring langkah kakinya menjauh dari ayahnya.
Ia menemukan tempat istirahat dan meminta adiknya untuk beristirahat sendiri karena ingin membantu di posko pengungsian. Adiknya menurut dan tidur bersama dengan anak-anak lain yang bernasib sama dengannya. Sedang umar berlari cepat menuju ayahnya. Setelah tepat berada di samping ayahnya, digenggamnyalah tangan ayahnya yang keriput dan penuh bercak darah itu sembari melancarkan doa-doa ke langit, agar ayahnya diberi keselamatan. Sesaat ayahnya membuka mata dan menatap Umar. Ia tersenyum, menggenggam erat tangan Umar. Lalu tak berapa lama, ayahnyapun menghembuskan napas terakhirnya.
Umar tahu, tatapan terakhir ayah itu mengisyaratkannya untuk menjadi kuat dan menjaga adiknya agar tetap aman. Umar menghapus air matanya dan memeluk ayahnya untuk terakhir kali. Ia bisikkan kalimat syahadat di telinga ayahnya lalu ia kecup kening ayahnya itu. Berharap kepergian ayahnya memberi restu dan kekuatan untukknya dalam melanjutkan hidupnya menjaga Lutfi.
Di dalam perjalanan menuju tempat adiknya, Umar bertemu salah satu sahabat ayahnya. Lelaki itu memeluk Umar. Ia memberikan ikat kepala milik ayah Umar yang dipakai saat hendak maju ke medan perang. Umar memeluk ikat kepala itu. Memasangnya pada kepala Umar. Lalu kembali berjalan menuju adiknya. Ia berikrar, selain menjaga adiknya, iapun harus menuntaskan semangat juang ayahnya untuk memerdekakan kembali tanah Palestina.
Sesampainya Umar di tempat adiknya beristirahat, adknya terbangun dan bersuara, “Kak, Lutfi lapar, Lutfi haus” pelan sambil memegang perutnya.
“Sabar ya dek. Kamu tunggu di sini. Kakak akan berusaha mencari makanan dan membawanya kembali untukmu. Tunggu di sini. Jangan pernah keluar dari sini, ya” jawab Umar meyakinkan Lutfi sebelum meninggalkan Lutfi untuk mencari makanan.
Umar meninggalkan Lutfi yang kelaparan dalam keadaan bingung. Ia bingung harus mencari makanan kemana lagi dengan situasi serumit ini. Dengan berhati-hati ia berjalan demi menghindari serangan Israel yang terus saja menunggu. Akhirnya, ia menemukan tanaman kacang-kacangan di genangan yang sudah bercampur dengan tanah. Ia ambil kacang-kacangan itu dan lalu memasukkan pelan air kedalam botol yang dibawanya, agar tidak tercampur dengan tanah.
Di tengah perjalanan pulang, kaki Umar tertembak oleh tentara Israel. Umar panik. Ia terjatuh dan menangis. “Ya Allah, bagaimana aku bisa jalan dengan rasa sakit ini? Lalu bagaimana dengan nasib Lutfi jika aku terus terdiam kesakitan seperti ini? Aku bertanggung jawab terhadapnya ya Allah. Tolong beri aku kekuatan” ujar Umar menguatkan dirinya sendiri.
Tiba-tiba, datanglah seseorang yang menghampiri Umar. “Ayo nak, aku akan membantumu, kita menuju tempat yang aman” ajak seseorang yang tidak dikenal oleh Umar. Umarpun dibawanya ke belakang pohon besar yang dekat dari tempatnya terjatuh tadi.
“Terima kasih, Nek, sudah menyelamatkanku” Umar melihat kacang-kacangan yang ia dapatkan tadi lalu memberikan sebagian ke Nenek yang menyelamatkannya. “Ini nek, ambillah makanan ini untuk mengganjal perutmu”
“Alhamdulillah, terima kasih banyak nak. Aku memang belum makan sejak kemarin.” Ujar nenek itu lalu mengambil pemberian Umar dan melahapnya.
Umar tersenyum karena bisa membantu orang lain disaat-saat sulit baginya. Sesaat setelah beristirahat dan rasa nyeri dari bekas tembakan mulai berkurang, iapun memilih pergi dan berjalan kembali untuk menemui Lutfi. Ia pamit ke nenek tadi dan melanjutkan perjalanannya membawa makanan untuk adiknya yang kelaparan. Setibanya ia di hadapan adiknya, adiknya segera memakan dan meminum semua yang dibawa Umar untuk mengatasi rasa haus dan lapar yang dideritanya sejak tadi.
Keesokan harinya, Umar dan Lutfi melanjutkan perjalanan mereka, entah kemana arah kaki akan terus melangkah. Sampai mereka akhirnya menemukan sebuah goa yang gelap dan minim cahaya. Mereka berdua terkejut, di tempat yang dingin dan lembab itu dilihatnya seorang perempuan yang terbaring lemah. Ternyata perempuan tersebut adalah ibunya yang mencoba sembunyi dari tentara Israel. Umar dan Lutfi berusaha menghangatkan ibunya dengan memeluk erat ibunya.
Ibunya mengira jika ia tak akan pernah lagi bertemu dengan kedua putranya lagi setelah terpisah dari mereka. Tetapi Allah berkata lain. Dipertemukanlah oleh Allah mereka bertiga di tempat yang cukup aman untuk menyelamatkan diri. Air mata mereka sama-sama tidak dapat dibendung. Mereka menangis terisak-isak. Merasa kembali menemukan kebahagiaan.
Sesulit apapun keadaan saat itu, Umar, Lutfi, dan ibunya, tidak meninggalkan kewajiban mereka kepada Allah untuk solat 5 waktu. Mereka bertayamum untuk menyucikan diri dan kemudian mereka tak lupa berdoa, “Yaa Nur Aini, Yaa Jaddal Husaini. Terimalah doa kami, semoga Engkau masih bersedia dan tak bosan menganggap kami sebagai umatMu, walaupun kami sudah berlumur dosa yang sebegitu bertanya. Yaa Rasulullah. Jika engkau berkenan panggil nama kami nanti di singgasanamu yang agung, Aamiin ya Rabbal Alamin”
Setelah akhirnya mereka menemukan ibunya, Umar memutuskan untuk ikut berjihad memerdekakan tanah Palestina. Perjuangan tidak dibatasi oleh usia, semua orang dipersilakan untuk berjuang dan menjadi garda depan membela negara mereka dan melawan Israel. Umar anak kecil yang berusia 12 tahun itu kini hendak pergi berperang demi baktinya dan melanjutkan semangat juang ayahnya. Ia meninggalkan ibu dan adiknya, meminta mereka untuk tetap berada di goa itu.
Umar maju ke medan peperangan. Ikut serta memerjuangkan hak akan tanah airnya. Teriakan takbirnya bersahut-sahutan. Ia melempar bebatuan yang telah dikumpulkannya kepada tentara Israel. Para tentara itu kelabakan dan beberapa takut dengan perlawanan masyarakat Palestina. Ada yang sembunyi dan berusaha melindungi diri dan ada pula yang masih di depan memegang senjata dan menembak kemanapun tanpa tujuan.
Setelah hari mulai gelap, ia memutuskan kembali ke goa untuk beristirahat. Selangkah sebelum memasuki goa, tentara Israel yang kejam menembaknya, tepat mengenai dadanya. Ibunya dan Lutfi hanya bisa berteriak pelan dari dalam goa. Seperginya tentara itu setelah menembaki Umar, mereka berlari kelaur dengan hati yang teramat sedih. Mereka hanya bisa memeluk dan mengikhlaskan Umar untuk menyusul ayahnya.
***
Kehidupan penuh dengan asap dan bunyi tembakan masih tetap berlanjut. Lutfi dan ibunya terus berjuang mempertahankan hidupnya di gua yang gelap dan lembab itu. Pada suatu ketika, di saat mereka mencari makanan untuk dibawa ke goa, barisan pejuang maju menyerang tentara yang sudah berisap di perbatasan. Pasukan itu berbaju putih. Lutfi memangdang pasukan itu lalu menarik pelan baju ibunya sembari berbisik “Bu, itu kak Umar bu. Kak Umar ada di depan bu”. Ibu hanya bisa terdiam dan tersenyum, lalu memeluk Lutfi. Membisikkan berbagai kalimat suci memuja Allah akan keajaiban yang telah ia lihat dengan matanya sendiri.

 


191x
Dibaca

Berita Lainnya:

  1. OSIM MAN 1 TANJUNG JABUNG TIMUR MERIAHKAN PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW DAN HUT PGRI KE-73 433x dibaca
  2. MAN 1 TANJABTIM PEDULI KEBAKARAN, OSIM DAN PRAMUKA GALANG DANA 427x dibaca
  3. MERIAHKAN HUT RI KE-74 MAN 1 TANJABTIM IKUTI PAWAI PEMBANGUNAN 286x dibaca
  4. MILAD MAN 1 TANJUNG JABUNG TIMUR ADAKAN LOMBA VOLLEY BALL DAN FUTSAL TINGKAT SLTP/MTs 727x dibaca
  5. MAN 1 TANJUNG JABUNG GELAR UJIAN SEMESTER GANJIL TP 2018/2019 264x dibaca

Halaman ini diakses pada 25-06-2021 10:11:27 wib
Diproses dalam waktu : 0.327 detik
Diakses dari ip address: 35.170.64.36
Copyright © 2018 Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi - Allright Reserved